Mudaetam.com, KUTAI KARTANEGARA – Musim kemarau tak selalu menjadi kabar kurang baik bagi kawasan perairan. Di Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), surutnya air Danau Semayang justru menghadirkan wajah baru yang menarik perhatian wisatawan.
Hamparan daratan yang sebelumnya terendam air perlahan berubah menjadi savana hijau musiman. Lanskap ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana alam terbuka, berburu momen matahari terbenam hingga mengabadikan panorama dari udara menggunakan drone.
Fenomena musiman tersebut sekaligus memberi ruang bagi masyarakat Desa Pela untuk ikut menggerakkan aktivitas wisata. Jasa transportasi air hingga berbagai paket perjalanan kini kembali diminati pengunjung yang ingin menjelajahi kawasan danau.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) 3B Desa Pela, Alimin, mengatakan kawasan savana mulai dapat dikunjungi dengan lebih aman dalam beberapa hari terakhir. Meski luasannya belum seperti musim kemarau tahun sebelumnya, hamparan tersebut berpotensi semakin luas apabila kemarau berlangsung lebih lama.
“Sekarang wisatawan sudah mulai berdatangan. Kondisi savananya memang belum seluas tahun lalu, tetapi masih bisa bertambah jika kemarau berlanjut,” ujar Alimin, Jumat (14/8/2026).
Menurutnya, waktu kunjungan biasanya mulai meningkat pada sore hari. Sekitar pukul 16.00 WITA, wisatawan mulai berdatangan untuk menikmati suasana danau sekaligus menunggu matahari terbenam.
Pemandangan daratan yang muncul di tengah kawasan danau menjadi salah satu pengalaman berbeda yang ditawarkan Desa Pela. Wisatawan dapat menikmati panorama sekaligus mengabadikan lanskap menggunakan kamera maupun drone.
Tak hanya menawarkan pemandangan, geliat kunjungan tersebut turut memberikan dampak bagi masyarakat yang menyediakan jasa transportasi wisata. Kapal ces, longboat dan perahu kecil menjadi sarana bagi pengunjung untuk mencapai kawasan Danau Semayang.
Dari Kota Bangun, perjalanan pulang-pergi menggunakan longboat dikenakan tarif sekitar Rp600 ribu. Sementara dari Liang Ulu, tarifnya sekitar Rp500 ribu. Paket perjalanan tersebut mencakup susur sungai, wisata edukasi pesut Mahakam hingga kunjungan ke Danau Semayang.
Bagi wisatawan yang datang dalam kelompok kecil, perahu milik warga juga menjadi pilihan dengan tarif sekitar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu untuk perjalanan pulang-pergi.
Aktivitas di kawasan danau pun semakin beragam. Pengunjung dapat mencoba paddle board dengan tarif Rp50 ribu per jam atau Rp25 ribu untuk durasi 30 menit.
Alimin menyebut kondisi savana mulai lebih mudah diakses sekitar lima hari terakhir. Sebelumnya, kawasan tersebut masih berlumpur dan beberapa kali kembali terendam ketika permukaan air Danau Semayang naik.
“Air sekarang sudah kembali surut dan kawasan mulai menghijau. Biasanya pertengahan Agustus menjadi waktu kunjungan yang cukup ramai,” katanya.
Keberadaan savana musiman menjadi salah satu potensi wisata alam yang melengkapi daya tarik Desa Pela. Namun, pesona desa wisata tersebut tidak berhenti pada panorama Danau Semayang.
Wisata edukasi pesut Mahakam tetap menjadi salah satu magnet utama. Pengunjung dapat mengikuti perjalanan menyusuri sungai untuk melihat sekaligus mengenal satwa khas perairan Mahakam tersebut.
Kombinasi antara fenomena alam, wisata susur sungai dan edukasi pesut membuat Desa Pela memiliki pengalaman wisata yang beragam. Tak heran, kunjungan wisatawan mulai datang tidak hanya dari wilayah sekitar Kukar, tetapi juga dari luar daerah.
“Kalau melihat kunjungan sejak Januari, memang ada peningkatan. Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat savana, tetapi juga tertarik dengan wisata edukasi pesut. Ada yang datang dari Balikpapan, Jakarta dan daerah lainnya,” pungkas Alimin.
Bagi Desa Pela, kemunculan savana saat kemarau menjadi peluang untuk terus memperkenalkan potensi wisata berbasis alam sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat. Ketika air Danau Semayang surut, pesona lain pun muncul—membuka pengalaman baru bagi wisatawan dan peluang ekonomi bagi warga setempat.
(Adv Dispar Kukar/m/h)









