Mudaetam.com, KUTAI KARTANEGARA – Aktivitas wisata di kawasan Suka Alam, Desa Sukabumi, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), masih menghadapi tantangan dalam menjaga kunjungan wisatawan.
Selain bergantung pada kegiatan perjalanan wisata atau trip bersama mitra, operasional wisata juga dipengaruhi kondisi alam, terutama saat musim kemarau.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Suka Alam, Suharno, mengatakan kunjungan wisata cenderung bergantung pada agenda perjalanan yang diselenggarakan bersama mitra. Jika tidak ada kegiatan, kawasan wisata berpotensi sepi pengunjung.
“Kalau tidak ada kegiatan bersama mitra, kawasan wisata berpotensi sepi. Karena itu, kerja sama ini menjadi salah satu cara untuk menggerakkan kunjungan,” kata Suharno, Kamis (29/10/2026).
Pokdarwis Suka Alam telah menjalin kerja sama dengan pihak Canyoneering sejak Agustus 2025. Dalam kolaborasi tersebut, Pokdarwis menyediakan lokasi dan fasilitas, sedangkan mitra mendukung kegiatan dengan peralatan serta keterampilan yang dimiliki.
Kegiatan perjalanan wisata umumnya berlangsung pada Sabtu dan Minggu. Pelaksanaannya juga berpotensi bertambah saat tanggal merah atau hari libur nasional.
Dari satu kegiatan perjalanan, penerimaan pengelola diperkirakan mencapai Rp2,2 juta hingga Rp2,4 juta. Besarannya bergantung pada jumlah peserta dan kendaraan yang terlibat. Sementara itu, biaya yang dikenakan kepada peserta sekitar Rp200 ribu, menyesuaikan paket perjalanan yang dipilih.
Namun, angka tersebut merupakan penerimaan dari kegiatan, bukan keuntungan bersih. Perhitungan keuntungan tetap perlu memperhitungkan biaya operasional dan kebutuhan pelaksanaan kegiatan, termasuk pembagian hasil dengan mitra jika ada.
Tantangan lainnya datang dari kondisi alam. Air terjun yang menjadi daya tarik kawasan Suka Alam dapat mengering saat musim kemarau sehingga kegiatan wisata harus dihentikan sementara.
“Sekarang sedang musim kemarau, sehingga kami mengistirahatkan kegiatan sementara karena airnya tidak ada atau mengering,” ujar Suharno. (adv/disparkukar/m/h)









