Kemarau Pengaruhi Debit Air, Dispar Kukar Dorong Wisata Alam Lebih Adaptif

Mudaetam.com, KUTAI KARTANEGARA – Musim kemarau mulai memberikan dampak terhadap sejumlah destinasi wisata berbasis alam di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Debit air yang menurun membuat beberapa objek wisata air terjun dan wisata perairan mengalami perubahan kondisi dibandingkan saat musim penghujan.

Situasi ini menjadi perhatian Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar. Pengelola destinasi didorong untuk mampu menyesuaikan aktivitas wisata dengan kondisi alam, sehingga kegiatan kunjungan tetap dapat berjalan tanpa mengabaikan kenyamanan dan keselamatan wisatawan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispar Kukar, Awang Agus Dharmawan, mengatakan penurunan debit air terjadi di sejumlah objek wisata air terjun. Kondisi tersebut terlihat ketika dirinya melakukan kunjungan ke beberapa destinasi dalam beberapa waktu terakhir.

Salah satunya Air Terjun Kandua Raya di Desa Kedang Ipil. Kondisi serupa juga terlihat di Air Terjun Perjiwa, Desa Perjiwa. Dibandingkan kondisi normal, aliran air di kedua destinasi tersebut mengalami penyusutan.

“Hampir semua objek wisata air terjun kita juga surut. Kemarin hari Sabtu saya ke Kedang Ipil, Air Terjun Kandua kondisinya sama, debit airnya minim,” ujar Awang Agus, Jumat (18/9/2026).

Menurut Awang Agus, kondisi tersebut secara langsung dapat memengaruhi pola kunjungan wisatawan. Sebab, derasnya aliran air selama ini menjadi salah satu daya tarik utama wisata air terjun.

Ketika debit air menurun, pengalaman wisata yang ditawarkan tentu ikut berubah. Wisatawan pun dinilai dapat mempertimbangkan waktu kunjungan dengan melihat kondisi alam di destinasi yang akan dituju.

Namun, kondisi kemarau bukan berarti aktivitas pariwisata harus terhenti. Justru, situasi tersebut menjadi momentum bagi pengelola untuk melihat potensi lain yang dapat dikembangkan di sekitar destinasi.

Pengelola dapat menyesuaikan jenis aktivitas dengan kondisi yang tersedia, sembari memastikan seluruh kegiatan tetap memperhatikan faktor keselamatan wisatawan.

“Kalau debit airnya sedikit, aktivitas wisata air memang tidak seperti biasanya. Jadi pengunjung juga bisa menyesuaikan dengan kondisi yang ada,” katanya.

Fenomena serupa juga terlihat di kawasan Danau Semayang. Penurunan debit air di kawasan tersebut menunjukkan bahwa perubahan musim turut memengaruhi destinasi wisata yang mengandalkan kondisi perairan sebagai daya tarik utama.

Bagi Dispar Kukar, kondisi ini menjadi bagian dari tantangan pengelolaan destinasi wisata berbasis alam. Pengelola tidak hanya dituntut menghadirkan daya tarik, tetapi juga mampu membaca perubahan kondisi lingkungan dan menyesuaikan pola pengelolaan.

Dispar Kukar mendorong agar pengelola terus memantau kondisi alam dan mengembangkan alternatif aktivitas wisata yang tetap dapat dinikmati pengunjung selama musim kemarau.

“Dengan kondisi seperti itu, para wisatawan mungkin berpikir untuk tidak datang ke tempat itu. Karena debitnya sudah terlalu sedikit. Di Semayang kemarin sekalian ke sana, debit airnya juga jauh,” ujar Awang Agus.

Upaya adaptasi tersebut diharapkan dapat menjaga aktivitas pariwisata tetap berjalan sekaligus memberikan pengalaman wisata yang aman dan nyaman. Dengan pengelolaan yang menyesuaikan kondisi alam, destinasi wisata Kukar diharapkan tetap memiliki daya tarik meski menghadapi perubahan musim. (Adv/DisparKukar/M/H)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan