Mudaetam.com, KUTAI KARTANEGARA – Sektor pariwisata Kutai Kartanegara (Kukar) menunjukkan kontribusi positif terhadap pendapatan daerah. Hingga akhir Juli 2026, Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber dari sektor pariwisata telah mencapai sekitar Rp998 juta.
Capaian tersebut membawa realisasi PAD pariwisata Kukar semakin dekat dengan angka Rp1 miliar. Salah satu destinasi yang menjadi penyumbang penerimaan cukup besar adalah Pantai Tanah Merah di Kecamatan Samboja.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Awang Agus Dharmawan, mengatakan sejumlah destinasi yang berada di bawah pengelolaan Dispar terus didorong agar mampu memberikan kontribusi terhadap penerimaan daerah sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Untuk destinasi yang dikelola Dispar, di antaranya Jam Bentong yang masuk kawasan Taman Kota Raja, Taman Musik, Taman Tanjung, Pulau Kumala, Waduk Panji Sukarame, Pantai Tanah Merah, Tugu Ekuator di Marangkayu, serta Taman Temenggung di Bukit Biru,” ujar Awang, Kamis (20/8/2026).
Menurutnya, capaian hingga Juli tersebut menjadi modal positif untuk mengejar target PAD pariwisata yang telah ditetapkan. Tahun ini, target penerimaan berada di kisaran Rp1,4 miliar lebih.
“Target PAD yang ditetapkan sekitar Rp1,4 miliar lebih. Sampai akhir Juli, realisasinya sudah mencapai sekitar Rp998 juta, sehingga hampir menyentuh Rp1 miliar,” katanya.
Dispar Kukar pun masih memiliki waktu untuk mengoptimalkan penerimaan hingga penghujung tahun. Terlebih, sejumlah destinasi menunjukkan aktivitas kunjungan yang cukup tinggi, terutama saat akhir pekan dan musim libur.
Awang menyebut jumlah kunjungan di beberapa lokasi wisata bahkan dapat mencapai ribuan orang dalam satu akhir pekan. Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang untuk memperkuat kontribusi sektor pariwisata terhadap PAD.
“Kalau targetnya kita anggap sekitar Rp1,5 miliar, saya masih optimistis karena masih ada sekitar lima bulan ke depan. Apalagi kunjungan di sejumlah destinasi cukup tinggi. Pada akhir pekan, misalnya, jumlah pengunjung bisa mencapai ribuan orang,” jelasnya.
Menurut Awang, ruang untuk meningkatkan penerimaan sebenarnya masih cukup terbuka. Optimalisasi tidak hanya berasal dari tiket masuk, tetapi juga dapat dikembangkan melalui retribusi parkir maupun pemanfaatan berbagai fasilitas yang tersedia di kawasan wisata.
Meski demikian, Dispar Kukar tidak ingin peningkatan PAD dilakukan dengan mengabaikan keberadaan masyarakat yang selama ini menjadikan kawasan wisata sebagai ruang untuk mencari penghasilan.
Pelaku UMKM dan masyarakat yang berjualan maupun menyediakan jasa di destinasi wisata menjadi bagian penting dalam ekosistem pariwisata. Karena itu, setiap skema optimalisasi penerimaan perlu mempertimbangkan aspek sosial dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.
“Sebenarnya masih banyak yang bisa kita maksimalkan, mulai dari tiket masuk, retribusi parkir hingga penyewaan fasilitas. Tetapi untuk UMKM dan masyarakat yang berusaha di dalam kawasan wisata, kita juga harus mempertimbangkan aspek sosial,” ungkap Awang.
Ke depan, Dispar Kukar akan membahas lebih lanjut berbagai peluang penerimaan yang dapat dikembangkan. Salah satunya terkait pemanfaatan fasilitas dan aktivitas pendukung wisata yang selama ini sudah berjalan di sejumlah destinasi.
Mulai dari penyewaan ban, penjualan layang-layang hingga fasilitas bermain pasir bagi anak-anak dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi sumber penerimaan, sepanjang penerapannya tetap mempertimbangkan kemampuan dan kepentingan masyarakat.
“Mungkin ini perlu kita dudukkan bersama untuk membahas apakah retribusi dari penyewaan ban, penjualan layang-layang, tempat bermain pasir anak-anak dan lainnya perlu dioptimalkan,” pungkasnya. (Adv/DisparKukar/m/h)









