Mudaetam.com, Kutai Kartanegara — Potensi wisata di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) tidak hanya membutuhkan tempat yang menarik, tetapi juga cerita dan promosi agar semakin dikenal masyarakat. Karena itu, Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar terus mendorong kelompok sadar wisata (Pokdarwis) untuk kembali aktif menjadi penggerak pariwisata di wilayah masing-masing.
Langkah tersebut dilakukan dengan kembali mendata keberadaan Pokdarwis sekaligus melihat kelompok yang masih aktif menjalankan kegiatan di lapangan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dispar Kukar Awang Agus Dharmawan mengatakan, saat ini terdapat sekitar 60 Pokdarwis yang telah terdata. Namun, dari jumlah tersebut, sekitar 30 kelompok yang masih aktif.
“Untuk mendorong destinasi wisata yang masih kurang terekspos, kami kembali mendata Pokdarwis yang ada,” ujar Awang, Kamis (20/8/2026).
Menurut Awang, keberadaan Pokdarwis memiliki peran strategis karena kelompok tersebut berada dekat dengan destinasi dan masyarakat. Mereka tidak hanya dapat membantu mengelola potensi wisata, tetapi juga menjadi pihak yang paling memahami karakter dan keunggulan daerahnya.
Dispar Kukar pun mendorong agar Pokdarwis yang belum aktif dapat kembali bergerak. Pembenahan destinasi dan penguatan promosi menjadi bagian yang perlu dilakukan secara bersama-sama.
“Saat ini ada sekitar 60 Pokdarwis, tetapi yang aktif sekitar 30-an. Kita terus mendorong agar Pokdarwis kembali aktif, tempat wisata dibenahi dan promosinya ditingkatkan,” katanya.
Di tengah perkembangan media sosial, promosi destinasi wisata dinilai tidak lagi harus sepenuhnya menunggu pemerintah. Pengelola destinasi, komunitas, hingga pengunjung memiliki kesempatan yang sama untuk mengenalkan potensi wisata Kukar kepada khalayak yang lebih luas.
Karena itu, Dispar Kukar juga membuka ruang bagi generasi muda yang aktif menggunakan media sosial untuk ikut mengambil peran dalam mempromosikan destinasi.
“Kita juga melibatkan anak-anak muda yang aktif di media sosial. Kita berharap promosi destinasi wisata tidak hanya dilakukan oleh pemerintah, tetapi juga oleh pengelola dan pengunjung,” jelasnya.
Bagi Dispar Kukar, konten sederhana yang dibuat pengunjung maupun pengelola dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan destinasi yang selama ini belum banyak diketahui.
Pengelola destinasi juga didorong lebih percaya diri dalam mempromosikan tempat wisata mereka sendiri. Dengan begitu, informasi mengenai destinasi tidak hanya muncul ketika pemerintah melakukan kegiatan promosi, tetapi dapat terus bergerak melalui jejaring masyarakat.
“Pengelola destinasi juga harus lebih aktif mempromosikan tempat wisata masing-masing,” ungkap Awang.
Penguatan peran Pokdarwis dan komunitas juga menjadi salah satu cara Dispar Kukar menjaga geliat pariwisata di tengah keterbatasan anggaran.
Alih-alih menjadikan keterbatasan sebagai hambatan, Dispar Kukar mendorong pemanfaatan jejaring komunitas, media sosial, dan kolaborasi sebagai bagian dari strategi promosi.
“Ini menjadi salah satu cara kita menyiasati keterbatasan anggaran,” ujarnya.
Untuk memperkuat komunikasi, Dispar Kukar juga memiliki grup komunikasi yang mempertemukan pemerintah, pengelola destinasi, dan komunitas. Ruang komunikasi tersebut dimanfaatkan untuk bertukar informasi dan melakukan koordinasi kegiatan secara lebih fleksibel.
“Kita punya grup komunikasi, sehingga koordinasi bisa dilakukan tanpa harus selalu menggunakan anggaran besar,” katanya.
Ke depan, Dispar Kukar membuka peluang lebih luas bagi pengelola destinasi maupun komunitas yang telah memiliki konsep kegiatan untuk berkolaborasi dengan pemerintah.
Menurut Awang, pemerintah tidak harus selalu menjadi pelaksana utama. Ketika masyarakat dan pengelola sudah memiliki gagasan serta kesiapan kegiatan, Dispar dapat mengambil peran sebagai mitra pendukung.
“Kalau pengelola atau komunitas sudah siap dengan programnya, kita bisa datang dan berkolaborasi,” pungkas Awang. (Adv/Disparkukar/m/h)









