Mudaetam.com, KUTAI KARTANEGARA — Menyusuri Desa Pela di Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), wisatawan tak hanya disuguhi panorama perairan dan kehidupan masyarakat desa. Ada satu daya tarik yang membuat desa ini memiliki cerita berbeda yaitu Pesut Mahakam.
Keberadaan mamalia air tawar endemik Sungai Mahakam tersebut menjadi bagian penting dalam pengembangan pariwisata Desa Pela. Bukan sekadar objek yang ingin dilihat wisatawan, pesut juga menjadi simbol bagaimana masyarakat desa menjaga keseimbangan antara pariwisata dan kelestarian lingkungan.
Konsep itulah yang kini terus diperkuat Desa Pela. Melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), pengembangan destinasi diarahkan pada ekowisata yang melibatkan masyarakat sekaligus menjaga habitat pesut dan ekosistem perairan.
Ketua Pokdarwis Desa Pela, Alimin, mengatakan kekuatan Desa Pela terletak pada potensi alam yang berjalan beriringan dengan upaya konservasi. Menurutnya, pendekatan tersebut menjadi modal penting dalam mempersiapkan Desa Pela menuju ajang Best Tourism Village 2027.
“Insyaallah dengan bermodal itu, pada 2027 Desa Pela bisa mewakili Indonesia bersama beberapa desa lainnya dalam Best Tourism Village. Target kami sekarang memang ke tingkat dunia,” kata Alimin, Rabu (19/8/2026).
Menurut Alimin, Pesut Mahakam memiliki daya tarik yang kuat untuk dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman wisata. Wisatawan tidak hanya diajak menikmati keindahan alam, tetapi juga memahami kehidupan satwa serta pentingnya menjaga lingkungan tempat pesut berkembang biak dan mencari makan.
Karena itu, pertumbuhan sektor pariwisata di Desa Pela tidak ingin hanya diukur dari semakin banyaknya wisatawan yang datang. Aspek keberlanjutan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pengembangan destinasi.
“Pesut ini memang daya tariknya sangat bagus untuk ekowisata. Tetapi harus diingat, pariwisata itu tidak boleh merusak lingkungan. Pesut ini termasuk bagian dari keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.
Upaya tersebut semakin diperkuat dengan status Desa Pela sebagai desa konservasi Pesut Mahakam yang telah ditetapkan Menteri Lingkungan Hidup. Status ini menjadi pijakan bagi masyarakat untuk terus mengembangkan pariwisata yang tetap memperhatikan keberadaan satwa endemik dan ekosistem perairan.
Bagi Pokdarwis, konservasi justru menjadi nilai tambah yang membuat Desa Pela memiliki identitas kuat sebagai destinasi. Wisata tidak hanya menawarkan tempat untuk dikunjungi, tetapi juga menghadirkan cerita mengenai masyarakat yang hidup berdampingan dengan alam.
Konsep tersebut dinilai sejalan dengan arah pengembangan pariwisata berkelanjutan. Ketika wisatawan datang untuk melihat pesut, pada saat yang sama mereka juga diperkenalkan pada pentingnya menjaga sungai, lingkungan, serta kehidupan masyarakat di sekitarnya.
Ke depan, Desa Pela ingin memperluas jangkauan promosi ekowisatanya. Tidak hanya menarik wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia, tetapi juga membuka peluang agar Desa Pela semakin dikenal wisatawan mancanegara.
Alimin optimistis kekayaan alam, keberadaan Pesut Mahakam, kekuatan konservasi, dan keterlibatan masyarakat dapat menjadi satu kesatuan yang membawa Desa Pela ke level lebih tinggi.
“Target kami sekarang bukan lagi nasional, tetapi bagaimana Desa Pela ini bisa membawa ekowisata sampai ke dunia tahun depan,” sebutnya.
Jika langkah tersebut konsisten dilakukan, Desa Pela tidak hanya berpeluang menjadi destinasi wisata unggulan di Kukar. Lebih dari itu, desa ini berpotensi membawa pesan bahwa menjaga alam dan mengembangkan pariwisata dapat berjalan beriringan.
Dari habitat Pesut Mahakam di tepian Sungai Mahakam, Desa Pela kini mulai menatap panggung yang lebih luas—membawa cerita konservasi dan pariwisata masyarakat desa dari Kukar menuju dunia. (adv/disparkukar/m/h)









