Mudaetam.com, KUTAI KARTANEGARA – Fenomena surutnya air Danau Semayang di Desa Semayang, Kecamatan Kenohan, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), justru menghadirkan daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Perubahan lanskap danau saat musim kemarau mengundang rasa penasaran masyarakat untuk datang langsung, menikmati pemandangan, hingga mengabadikan momen di kawasan tersebut.
Kondisi danau yang ramai diperbincangkan di media sosial turut membuka peluang bagi pengembangan pariwisata desa. Informasi dan foto yang beredar membuat semakin banyak masyarakat tertarik menyaksikan perubahan kondisi danau secara langsung.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Dikma Lestari, Mariatul Husna, mengatakan kunjungan wisatawan sepanjang 2026 menunjukkan peningkatan dibandingkan sebelumnya. Pengunjung datang dengan beragam tujuan, mulai dari menikmati suasana danau, berfoto, menyantap makanan, hingga bersantai bersama keluarga.
“Alhamdulillah, tahun ini terlihat ada peningkatan kunjungan. Kondisi Danau Semayang saat airnya menyusut menjadi salah satu hal yang menarik perhatian masyarakat. Banyak yang penasaran dan ingin melihat langsung keadaan danau,” ujar Mariatul, Rabu (9/9/2026).
Menurutnya, media sosial berperan dalam memperluas jangkauan promosi destinasi wisata tersebut. Informasi mengenai kondisi Danau Semayang yang dibagikan secara daring menjadi salah satu alasan pengunjung tertarik mendatangi Desa Semayang.
Fenomena alam tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa daya tarik destinasi wisata tidak hanya bertumpu pada fasilitas, tetapi juga keunikan kondisi alam yang mampu memancing rasa ingin tahu masyarakat.
“Informasi di media sosial cukup membantu membuat masyarakat mengetahui kondisi Danau Semayang. Ada pengunjung yang datang karena melihat informasi atau foto yang beredar, kemudian ingin menyaksikan sendiri bagaimana kondisi danau saat airnya surut,” jelasnya.
Surutnya air danau juga membuat sejumlah area lebih mudah dijangkau kendaraan tertentu, termasuk mobil dan sepeda motor. Hal ini turut memberikan kemudahan bagi pengunjung yang ingin melihat lebih dekat kondisi kawasan danau.
Meski demikian, peningkatan kunjungan tersebut belum dapat diukur secara pasti. Pokdarwis Dikma Lestari belum memiliki sistem pencatatan resmi sehingga jumlah wisatawan masih berdasarkan perkiraan pengelola.
Mariatul menyebut perkiraan kunjungan berada pada kisaran 50 hingga 100 kunjungan. Namun, angka tersebut belum didukung data terperinci sehingga belum dapat dijadikan gambaran pasti mengenai jumlah wisatawan.
“Kami belum memiliki data kunjungan yang tercatat secara resmi. Perkiraan yang ada sekitar 50 sampai 100 kunjungan, tetapi itu masih perkiraan sehingga belum bisa dijadikan angka pasti,” ungkapnya.
Sebagian besar wisatawan yang datang merupakan pengunjung harian. Mereka biasanya menikmati pemandangan danau, berfoto, makan, atau beristirahat sejenak sebelum kembali ke daerah asal. Sementara itu, kebutuhan penginapan masih menjadi salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam pengembangan destinasi tersebut.
Pokdarwis Dikma Lestari sebenarnya telah mengelola homestay sebagai fasilitas pendukung bagi wisatawan yang ingin bermalam. Namun, kondisi sarana yang belum optimal membuat penginapan tersebut belum bisa dimanfaatkan secara maksimal.
Sejumlah bagian masih memerlukan pembenahan, terutama instalasi air yang belum berfungsi optimal serta atap yang mengalami kebocoran. Pengelola pun perlu menyampaikan kondisi fasilitas tersebut kepada calon tamu sebelum mereka memutuskan untuk menginap.
“Untuk homestay, masih ada beberapa bagian yang perlu diperbaiki, terutama instalasi air dan atap yang bocor. Jadi, kalau ada calon tamu yang ingin menginap, kami menjelaskan terlebih dahulu kondisi fasilitasnya,” kata Mariatul.
Bagi calon wisatawan yang membutuhkan penginapan dengan fasilitas lebih memadai, pengelola menyarankan alternatif akomodasi di Kota Bangun. Langkah ini dilakukan agar pengunjung tetap memiliki pilihan tempat bermalam ketika berwisata ke kawasan Danau Semayang.
Ke depan, pembenahan homestay dan fasilitas pendukung lainnya diharapkan dapat meningkatkan kenyamanan wisatawan sekaligus memperpanjang waktu kunjungan mereka. Dengan begitu, aktivitas wisata berpotensi memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat.
Mariatul berharap perhatian masyarakat terhadap Danau Semayang dapat menjadi momentum untuk memperkuat promosi dan pengelolaan pariwisata desa. Potensi alam yang dimiliki perlu didukung dengan peningkatan kualitas layanan, pembenahan sarana, serta pencatatan kunjungan yang lebih teratur.
Menurutnya, pengembangan destinasi tidak cukup hanya mengandalkan daya tarik alam dan popularitas di media sosial. Kesiapan fasilitas dan pengelolaan yang lebih tertata juga diperlukan agar minat wisatawan dapat berkembang menjadi kunjungan yang berkelanjutan.
Dengan pembenahan bertahap, Danau Semayang diharapkan semakin dikenal sebagai salah satu pilihan wisata alam di Kukar. Perhatian yang kini muncul akibat surutnya air danau pun dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan potensi Desa Semayang secara lebih luas kepada masyarakat. (adv/disparkukar/m/h)









