Mudaetam.com, KUTAI KARTANEGARA – Pengembangan ekonomi kreatif di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) terus diarahkan untuk membuka lebih banyak peluang pemasaran bagi pelaku usaha lokal. Salah satu upaya yang dilakukan Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar ialah mengembangkan wadah promosi ekonomi kreatif dengan mengadopsi konsep Simpang Odah Etam (SOE) di Tenggarong.
Konsep tersebut diharapkan menjadi ruang bagi pelaku usaha untuk memperkenalkan produk unggulan daerah sekaligus memperluas jangkauan pasar. Pengembangannya juga dirancang menjangkau kawasan tengah, ulu, hingga pesisir Kukar, dengan menyesuaikan potensi dan karakteristik masing-masing wilayah.
Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dispar Kukar, Zikri Umulda, mengatakan pengembangan wadah ekonomi kreatif tersebut telah berjalan di Kota Bangun dengan melibatkan pelaku usaha dari 11 desa. Sementara itu, rencana serupa di Sangasanga belum dapat direalisasikan karena penyesuaian anggaran.
“Anggaran kami mengalami penyesuaian, sehingga kegiatan yang berjalan baru di Kota Bangun. Untuk Sangasanga, sementara ini belum terlaksana,” jelas Zikri, Senin (12/10/2026).
Di Kota Bangun, pembentukan wadah ekonomi kreatif dilakukan melalui rapat yang difasilitasi pihak kecamatan dengan melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). Perwakilan dari 11 desa kemudian dilibatkan dalam kepengurusan untuk mendukung pemasaran produk sekaligus memperkuat kerja sama antarpelaku usaha.
Tidak hanya menyediakan ruang berjualan, Dispar Kukar juga membekali pelaku usaha dengan keterampilan dasar pengembangan bisnis. Pendampingan dilakukan melalui dua kali pelatihan yang mencakup branding dan manajemen keuangan.
Pembekalan tersebut diharapkan membantu pelaku usaha membangun identitas produk yang lebih kuat, mengelola keuangan secara teratur, serta meningkatkan daya saing di tengah persaingan pasar.
Dalam pelaksanaannya, sekitar 25 tenant turut menawarkan beragam produk kepada pengunjung. Kegiatan ini juga melibatkan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) untuk memperkenalkan potensi dan produk unggulan setempat.
Dari aktivitas tersebut, perputaran uang tercatat masih di bawah Rp30 juta per malam. Produk makanan dan jajanan yang dapat langsung dinikmati pengunjung cenderung lebih diminati dibandingkan produk dalam kemasan.
Menurut Zikri, kondisi itu menjadi bahan evaluasi bagi pelaku usaha untuk memahami preferensi konsumen. Penyesuaian jenis produk, penyajian, hingga strategi pemasaran dinilai penting agar kegiatan promosi dapat memberikan dampak ekonomi yang lebih optimal.
Ia menegaskan, keberhasilan pengembangan ekonomi kreatif tidak hanya ditentukan oleh tersedianya tempat berjualan. Konsistensi kegiatan, kualitas produk, pendampingan, serta kolaborasi antara pelaku usaha dan pemangku kepentingan juga menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan usaha.
Ke depan, konsep serupa direncanakan dikembangkan di Sangasanga untuk memperluas pemasaran produk lokal di kawasan pesisir. Daerah ini memiliki karakteristik dan potensi tersendiri, termasuk nilai sejarah yang dapat dikembangkan sebagai bagian dari daya tarik kawasan, salah satunya keberadaan patung Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Pengembangan wadah ekonomi kreatif di berbagai kecamatan diharapkan tidak hanya menjadi sarana transaksi, tetapi juga ruang untuk memperkenalkan identitas daerah melalui produk unggulan masyarakat.
Melalui pendekatan tersebut, Dispar Kukar berupaya mendorong pelaku usaha lokal agar semakin berkembang, memperluas akses pasar, serta menjadikan potensi ekonomi kreatif sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi masyarakat di tingkat kecamatan. (adv/disparkukar/m/h)









