Mudaetam.com, KUTAI KARTANEGARA, 28 Oktober 2026 – Desa Sumber Sari, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terus berupaya memperkuat identitasnya sebagai desa wisata. Pengembangan tidak hanya bertumpu pada wisata alam Puncak Bukit Biru, tetapi juga diarahkan pada potensi wisata edukasi dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Ketua Pokdarwis Dewi Arum, Dedi, mengatakan pengembangan pariwisata desa perlu dilakukan secara terintegrasi. Keberadaan Bukit Biru sebagai salah satu daya tarik utama diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan potensi wisata lainnya yang dimiliki Sumber Sari.
“Ke depan, kami ingin Desa Sumber Sari dikenal bukan hanya karena wisata alamnya, tetapi juga wisata edukasinya. Potensi yang ada cukup banyak, sehingga ingin kami kembangkan secara bertahap dan saling terhubung,” ujarnya.
Salah satu rencana yang tengah disiapkan adalah pengembangan pusat pertanian terpadu di depan kantor desa. Kawasan tersebut direncanakan menjadi tempat bagi pengunjung untuk mengenal berbagai aktivitas produktif masyarakat, mulai dari budidaya tanaman, peternakan hingga perikanan.
Dedi menjelaskan, konsep wisata edukasi tersebut diharapkan memberikan pengalaman berbeda bagi wisatawan. Pengunjung nantinya tidak hanya menikmati panorama alam, tetapi juga memperoleh pengetahuan mengenai kegiatan pertanian dan potensi lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat desa.
“Rencananya di depan kantor desa akan dikembangkan pusat pertanian terpadu. Di sana pengunjung bisa melihat langsung kegiatan pertanian, peternakan, dan perikanan. Jadi, ada nilai edukasi yang bisa didapatkan, bukan hanya datang untuk berwisata,” jelasnya.
Menurutnya, pengembangan wisata edukasi dapat memperluas pilihan kegiatan bagi wisatawan yang berkunjung ke Sumber Sari. Konsep tersebut juga berpeluang melibatkan masyarakat yang memiliki keahlian maupun usaha di sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.
Selain menyiapkan wisata edukasi, Pokdarwis Dewi Arum tetap memperhatikan pembenahan fasilitas di kawasan Puncak Bukit Biru. Peningkatan sarana dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan pengunjung serta kemampuan pengelola.
“Untuk fasilitas Bukit Biru, tentu akan terus kami benahi. Kami ingin tempat ini semakin nyaman dan bisa dinikmati semua kalangan, mulai dari anak-anak sampai orang tua. Namun, pelaksanaannya tetap bertahap sesuai kemampuan pengelola,” katanya.
Penguatan identitas desa wisata juga diarahkan pada peningkatan keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekonomi. Pokdarwis mendorong tumbuhnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di sekitar kawasan wisata agar kehadiran wisatawan turut memberikan manfaat bagi warga.
Sejumlah peluang usaha mulai dipertimbangkan, terutama di bidang kuliner dan penyediaan produk lokal. Salah satu rencana yang ingin dikembangkan adalah kedai kopi sebagai fasilitas tambahan bagi pengunjung yang ingin bersantai setelah menikmati kawasan wisata.
“Kami juga ingin masyarakat ikut merasakan manfaat dari berkembangnya pariwisata. Salah satunya melalui UMKM, sehingga warga punya kesempatan membuka usaha dan menjual produk mereka kepada pengunjung,” ungkap Dedi.
Meski demikian, rencana pengembangan UMKM masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut. Pengelola perlu menyusun konsep usaha, menentukan jenis produk yang dapat dijual, serta membicarakan mekanisme pengelolaan dan aturan berjualan agar kegiatan ekonomi di kawasan wisata tetap tertata.
“Ada juga rencana mengembangkan kedai kopi. Tetapi, sebelum dijalankan, kami perlu membicarakan konsep dan pengelolaannya terlebih dahulu, termasuk siapa yang menjalankan dan bagaimana aturan usahanya agar tertata dengan baik,” tambahnya.
Dedi berharap masyarakat dapat mengambil bagian dalam pengembangan desa wisata sesuai potensi masing-masing. Keterlibatan tersebut tidak harus selalu melalui pengelolaan destinasi, tetapi juga bisa diwujudkan melalui usaha kuliner, produk lokal, layanan pemandu wisata, maupun kegiatan edukasi.
“Kami berharap masyarakat bisa ikut mengambil bagian dalam pengembangan desa wisata ini. Tidak harus semuanya menjadi pengelola, tetapi bisa melalui usaha kuliner, produk lokal, pemandu wisata, maupun kegiatan edukasi,” tuturnya.
Ia mengakui, seluruh rencana pengembangan tidak dapat direalisasikan sekaligus. Kesiapan fasilitas, ketersediaan anggaran, dan kondisi di lapangan menjadi sejumlah pertimbangan sebelum program dijalankan.
“Semua rencana tentu tidak bisa langsung dijalankan sekaligus. Kami harus melihat kesiapan fasilitas, anggaran, dan kondisi di lapangan. Yang penting, pengembangannya tetap berjalan dan bisa memberikan manfaat bagi masyarakat,” sebutnya.
Melalui pengembangan wisata alam, edukasi, serta peluang usaha masyarakat, Desa Sumber Sari diharapkan memiliki pilihan pengalaman wisata yang semakin beragam. (adv/disparkukar/m/h)









