Mudaetam.com, KUTAI KARTANEGARA – Kekayaan alam Desa Buana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), masih menyimpan potensi yang belum sepenuhnya tergarap. Dua air terjun tambahan yang ditemukan di kawasan hutan kini menjadi peluang baru untuk memperkaya daya tarik Buana Jaya Agro Ekowisata.
Keberadaan dua air terjun tersebut membuka kesempatan bagi desa untuk mengembangkan pengalaman wisata yang lebih beragam. Tidak hanya menawarkan panorama air terjun, kawasan ini juga memiliki pepohonan berukuran besar yang dapat menjadi bagian dari wisata edukasi lingkungan.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Buana Jaya Agro Ekowisata, Eko Widodo, mengatakan temuan tersebut menjadi salah satu potensi yang dapat dipertimbangkan dalam pengembangan destinasi ke depan.
“Selain air terjun yang sudah ada, kami menemukan dua air terjun tambahan di kawasan hutan. Ini menjadi potensi yang bisa dikembangkan ke depan, tetapi tentu perlu melihat kondisi lokasi dan kesiapan kawasan terlebih dahulu,” ujar Eko, Kamis (10/9/2026).
Menurutnya, potensi alam tersebut perlu dikembangkan melalui perencanaan yang matang. Aspek aksesibilitas, keselamatan pengunjung, kondisi jalur, hingga kesiapan pendamping wisata harus menjadi perhatian sebelum lokasi dibuka untuk umum.
Dengan persiapan yang tepat, air terjun tambahan itu berpeluang menjadi bagian dari pengalaman menjelajahi alam Buana Jaya. Pengunjung nantinya tidak hanya menikmati keindahan bentang alam, tetapi juga mengenal kekayaan hutan dan pentingnya menjaga lingkungan.
Pepohonan berukuran besar yang tumbuh di kawasan tersebut turut menambah nilai edukasi. Keberadaannya dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk memperkenalkan keanekaragaman alam sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap kelestarian hutan.
“Pohon-pohon besar yang ada di kawasan itu juga menarik untuk dikenalkan kepada pengunjung. Jadi, nantinya wisata tidak hanya soal menikmati pemandangan, tetapi juga bisa menjadi sarana edukasi tentang alam dan lingkungan,” katanya.
Bagi pengelola, pengembangan wisata berbasis alam tidak semata-mata menambah jumlah objek kunjungan. Lebih dari itu, potensi yang tersedia diharapkan dapat dirangkai menjadi pengalaman wisata yang saling melengkapi, mulai dari menikmati air terjun, mengenal ekosistem hutan, hingga melihat aktivitas pertanian masyarakat.
Meski demikian, pengembangan tersebut dilakukan secara bertahap. Saat ini, kawasan Buana Jaya Agro Ekowisata belum dibuka secara rutin karena pengelola masih melakukan pembenahan, terutama di area air terjun.
Kawasan tersebut sempat menerima kunjungan wisatawan pada awal 2026. Namun, aktivitas wisata kemudian dihentikan sementara agar proses pembenahan dapat dilakukan sebelum destinasi kembali beroperasi secara rutin.
Pokdarwis menargetkan kawasan ekowisata tersebut dapat kembali menerima pengunjung pada 2027. Masa persiapan ini juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi potensi yang ada, termasuk mengkaji kelayakan dua air terjun tambahan agar pengembangannya tetap memperhatikan keselamatan wisatawan dan kelestarian lingkungan.
Eko menjelaskan, pengelolaan kawasan ekowisata berada di bawah Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) yang bernaung dalam Lembaga Hutan Desa. Sementara itu, Pokdarwis menjalin koordinasi dan kerja sama untuk mendukung pengembangan potensi wisata, termasuk peluang agrowisata yang melibatkan kebun masyarakat dan pelaku usaha lokal.
“Kami ingin potensi yang ada bisa dikembangkan secara terarah. Selain ekowisata, ada juga peluang agrowisata melalui kebun masyarakat. Harapannya, berbagai potensi ini bisa saling melengkapi dan memberikan manfaat bagi desa,” tuturnya.
Kolaborasi tersebut diharapkan membuka peluang bagi masyarakat untuk terlibat lebih luas dalam kegiatan pariwisata. Pengembangan destinasi juga dapat diarahkan agar potensi alam dan aktivitas ekonomi lokal berjalan beriringan.
Dengan keberadaan dua air terjun tambahan, pepohonan besar, serta peluang agrowisata, Desa Buana Jaya memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata berbasis alam dan edukasi.
Melalui pembenahan dan perencanaan yang terarah, Buana Jaya Agro Ekowisata diharapkan dapat kembali menyambut wisatawan pada 2027 sekaligus memperkuat peluang pengembangan pariwisata desa di Kabupaten Kutai Kartanegara. (adv/disparkukar/m/h)









