Mudaetam.com, KUTAI KARTANEGARA – Potensi alam, perkebunan warga, hingga produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi modal bagi Desa Buana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), untuk mengembangkan destinasi wisata berbasis potensi lokal. Melalui Buana Jaya Agro Ekowisata, pengelola kini mempersiapkan pembenahan kawasan sebelum kembali membuka layanan kunjungan secara rutin pada 2027.
Pembenahan tersebut menjadi langkah penting untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih beragam. Tak hanya mengandalkan keindahan alam dan kawasan air terjun, destinasi ini juga diarahkan untuk mengintegrasikan ekowisata dengan agrowisata, sehingga pengunjung dapat mengenal kekayaan alam sekaligus kehidupan masyarakat desa.
Ketua Pokdarwis Buana Jaya Agro Ekowisata, Eko Widodo, menjelaskan kawasan tersebut sempat dibuka pada awal 2026. Namun, operasional kunjungan kemudian dihentikan sementara karena masih ada sejumlah pekerjaan yang perlu diselesaikan, terutama di kawasan air terjun.
“Untuk sekarang memang belum dibuka secara rutin. Kemarin sempat dibuka pada awal tahun, tetapi kemudian sementara dihentikan karena masih ada pembenahan di kawasan air terjun,” ujar Eko, Kamis (10/9/2026).
Menurutnya, kesiapan kawasan menjadi prioritas sebelum destinasi kembali menerima wisatawan secara rutin. Pengelola ingin memastikan pembenahan berjalan optimal, termasuk pada area utama yang menjadi daya tarik pengunjung dan fasilitas pendukung yang dibutuhkan selama berwisata.
“Kami ingin kawasan ini benar-benar siap sebelum dibuka kembali secara rutin. Jadi, bukan hanya membuka tempat wisata, tetapi juga mempersiapkan kawasan dan fasilitas pendukungnya agar pengunjung bisa menikmati potensi yang ada,” jelasnya.
Ke depan, Buana Jaya Agro Ekowisata tidak hanya diproyeksikan sebagai tempat untuk menikmati panorama alam. Pengelola juga berupaya membangun konsep wisata yang menghubungkan kawasan air terjun dengan potensi pertanian dan perkebunan milik masyarakat.
Konsep tersebut diharapkan memberi pengalaman berbeda bagi wisatawan. Selain menikmati suasana alam, pengunjung berpeluang mengenal aktivitas pertanian, melihat potensi kebun warga, serta menjelajahi produk lokal yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Desa Buana Jaya.
Eko mengatakan, potensi yang dimiliki desa perlu dikembangkan secara terpadu agar dapat menjadi daya tarik yang saling melengkapi. Dengan begitu, kegiatan wisata tidak hanya terpusat pada satu lokasi, tetapi juga dapat mendorong pengunjung mengenal potensi lain di sekitarnya.
“Ke depan, kami ingin mengembangkan ekowisata yang terhubung dengan agrowisata. Jadi, pengunjung tidak hanya datang untuk melihat air terjun atau menikmati pemandangan, tetapi juga bisa mengenal potensi pertanian yang ada di Desa Buana Jaya,” katanya.
Pengembangan tersebut sekaligus membuka peluang bagi produk UMKM untuk menjadi bagian dari pengalaman wisata. Produk lokal dapat diperkenalkan kepada pengunjung sehingga keberadaan destinasi turut memberi ruang promosi bagi usaha masyarakat.
“Potensi yang ada di desa cukup beragam. Ada kawasan alam, kebun masyarakat, dan produk UMKM. Harapannya, semua itu bisa dikembangkan bersama sehingga wisatawan mempunyai pengalaman yang lebih beragam saat berkunjung,” ungkap Eko.
Integrasi potensi alam, pertanian, dan UMKM diharapkan tidak hanya memperkaya pilihan kegiatan wisata, tetapi juga memperluas manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Keterlibatan warga menjadi salah satu unsur penting agar pengembangan destinasi berjalan seiring dengan pemberdayaan ekonomi desa.
Dalam pengelolaannya, kawasan Buana Jaya Agro Ekowisata berada di bawah Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) yang bernaung dalam Lembaga Hutan Desa. Sementara itu, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) tetap menjalin koordinasi dan kerja sama untuk mendukung pengembangan potensi wisata di wilayah tersebut.
Kolaborasi ini diharapkan dapat memperkuat pengelolaan destinasi dengan memanfaatkan potensi yang telah dimiliki desa. Dengan perencanaan yang matang, pengembangan wisata diharapkan mampu memberikan manfaat tidak hanya bagi pengelola, tetapi juga bagi warga yang terlibat dalam kegiatan pertanian, usaha kuliner, maupun produksi UMKM.
Eko berharap proses pembenahan dapat berjalan sesuai rencana sehingga Buana Jaya Agro Ekowisata bisa kembali dibuka pada 2027. Bahkan, pengelola berharap pembukaan dapat dilakukan sebelum akhir tahun apabila seluruh persiapan memungkinkan.
“Target kami mudah-mudahan bisa dibuka kembali pada 2027. Kalau memungkinkan, tentu kami berharap tidak perlu menunggu sampai akhir tahun. Namun, semuanya tetap melihat kesiapan kawasan dan proses pembenahan yang sedang dilakukan,” tuturnya.
Dengan mengusung perpaduan ekowisata dan agrowisata, Buana Jaya Agro Ekowisata diharapkan memiliki daya tarik yang lebih kuat sekaligus menjadi ruang promosi potensi lokal. Pengembangan yang melibatkan masyarakat menjadi harapan agar pariwisata dapat tumbuh sebagai salah satu penggerak ekonomi desa secara berkelanjutan.
“Kami berharap pengembangan ini nantinya tidak hanya memberikan manfaat bagi kawasan wisata, tetapi juga bagi masyarakat,” tandasnya. (adv/disparkukar/m/h)









