Mudaetam.com, KUTAI KARTANEGARA — Hamparan air dan ruang terbuka yang luas menjadi modal alami Waduk Panji Sukarame di Kecamatan Tenggarong, Kutai Kartanegara (Kukar), untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya berbanding lurus dengan jumlah kunjungan wisatawan.
Dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas wisata di kawasan tersebut cenderung sepi. Kondisi itu juga tercermin dari penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang masih rendah. Hingga tujuh bulan berjalan, setoran PAD dari Waduk Panji Sukarame tercatat sekitar Rp8,84 juta.
Plt Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Awang Agus Dharmawan, menilai kondisi tersebut menjadi tantangan yang perlu dijawab melalui pembenahan konsep wisata.
Menurutnya, persoalan utama Waduk Panji Sukarame bukan terletak pada potensi kawasan, melainkan minimnya aktivitas yang mampu menjadi daya tarik utama bagi wisatawan.
“Jadi tujuh bulan itu hanya Rp8.840.000 yang setor PAD-nya,” kata Awang Agus, Jumat (21/8/2026).
Ia mengungkapkan, jumlah pengunjung harian saat ini bahkan hanya berkisar satu hingga dua orang. Minimnya aktivitas wisata membuat kawasan yang cukup luas tersebut belum termanfaatkan secara maksimal.
Salah satu hal yang dinilai perlu mendapat perhatian adalah keberadaan wahana. Fasilitas yang sebelumnya menjadi bagian dari pengalaman wisata, seperti sepeda air, kini tidak lagi beroperasi sebagaimana mestinya.
“PR-nya sih satu. Ini sudah nggak ada wahana lagi. Terus nggak ada atraksi di situ. Jadi pengunjungnya dapat dihitung. Sehari itu hanya satu-dua saja yang datang,” ujarnya.
Padahal, karakter Waduk Panji Sukarame cukup terbuka untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata berbasis alam. Kawasan tersebut dapat diarahkan sebagai tempat rekreasi keluarga, olahraga, hingga ruang berkegiatan bagi komunitas.
Menariknya, aktivitas komunitas justru masih menjadi salah satu penggerak kawasan. Kegiatan seperti kemah mahasiswa dan Pramuka mampu menghadirkan pengunjung sekaligus membuat kawasan tetap memiliki aktivitas.
“Biasanya yang dipakai itu kelompok-kelompok. Ada kemah mahasiswa, kemah Pramuka. Cuma satu malam ada kegiatan apa, sementara komunitas-komunitas itu saja yang bikin agak lumayan lah ini pemasukannya,” jelas Awang Agus.
Kondisi tersebut menunjukkan Waduk Panji Sukarame sebenarnya belum kehilangan daya tariknya. Kawasan ini masih dapat dimanfaatkan sebagai ruang aktivitas masyarakat, hanya saja pola kunjungan wisata yang terbentuk belum berlangsung secara konsisten.
Karena itu, Dispar Kukar melihat revitalisasi tidak harus selalu identik dengan pembangunan fasilitas dalam skala besar. Langkah awal dapat diarahkan pada menghidupkan kembali fasilitas yang tersedia, kemudian memperkuatnya dengan aktivitas wisata yang relevan dengan karakter kawasan.
Awang Agus menilai keberadaan wahana dan atraksi menjadi dua elemen penting untuk membangun kembali alasan masyarakat datang ke Waduk Panji Sukarame.
“Kalau ada wahana, ada atraksi, biasanya orang datang. Itu saja selama ini. Kalau mau santai di alam terbuka, olahraga, itu yang datang,” katanya.
Konsep tersebut dinilai dapat membuka kembali peluang Waduk Panji Sukarame untuk menjadi salah satu pilihan wisata masyarakat di Tenggarong. Tidak hanya mengandalkan panorama alam, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang membuat pengunjung ingin datang dan kembali lagi.
“Kalau konsepnya itu tadi, mengembalikan di situ ada atraksi, di situ ada wahana, insyaallah itu sudah mulai bisa ini lagi,” tuturnya. (adv/disparkukar/m/h)









