Hampir setahun berlalu sejak bencana tanah longsor menerjang permukiman warga di KM 28 Desa Batuah, Kecamatan Loa Janan, pada awal Februari 2025. Namun bagi puluhan kepala keluarga terdampak, waktu seolah berhenti dalam kecemasan. Hingga Jumat (2/1/2026), puing-puing rumah yang amblas sedalam lima meter dari jalan poros masih menjadi saksi bisu penantian panjang atas janji relokasi yang belum juga terwujud.
Pemandangan di lokasi kejadian masih tampak memilukan. Rumah-rumah yang dulunya menjadi tempat bernaung kini hancur tak berbentuk, terperosok ke dalam patahan tanah yang terus menunjukkan ketidakstabilan. Tak hanya permukiman warga, jalan nasional di jalur tersebut kembali amblas setelah sempat diperbaiki, memperlihatkan bahwa penanganan yang dilakukan sejauh ini belum menyentuh solusi jangka panjang,
Kondisi ini tidak hanya menandakan kegagalan mitigasi bencana, tetapi juga membahayakan keselamatan warga sekitar serta para pengguna jalan nasional yang setiap hari melintas di jalur vital tersebut.
Kerusakan lahan yang parah memaksa warga meninggalkan rumah dan seluruh kenangan demi menyelamatkan nyawa. Rusnawati, salah satu warga terdampak, menuturkan bahwa sekitar 20 unit rumah mengalami kerusakan total. Tak ada lagi tawa di teras rumah, yang tersisa hanyalah sunyi di antara puing dan dinding yang retak.
“Kami terpaksa mengungsi. Ada yang menumpang di rumah keluarga, ada juga yang pindah ke Jalan Hasanudin, tidak jauh dari sini. Yang penting aman dulu,” ujar Rusnawati dengan nada getir.
Harapan sempat muncul pada November 2025 lalu ketika para korban menerima formulir pendataan relokasi. Berkas identitas dan bukti kepemilikan lahan telah diserahkan dengan penuh harap. Namun hingga dua bulan berselang, belum ada kejelasan lanjutan yang diterima warga.
“Kami sudah serahkan semua berkasnya di November kemarin, tapi sampai sekarang belum ada informasi lanjutan,” keluh Rusnawati.
Warga memahami bahwa proses relokasi membutuhkan tahapan dan birokrasi. Namun bagi mereka yang telah kehilangan tempat tinggal hampir setahun lamanya, waktu bukan lagi sekadar prosedur, melainkan soal keberlangsungan hidup.
Warga hanya meminta satu hal komitmen nyata. Mereka berharap pemerintah segera menyediakan hunian dengan status kepemilikan yang jelas. Saat ini, dua lokasi disebut sebut menjadi opsi relokasi, yakni area lapangan sepak bola dan lahan perkebunan yang dikabarkan telah dihibahkan ke Kecamatan Loa Janan.
Bagi para korban, memulai hidup dari titik nol tanpa dukungan negara adalah hal yang nyaris mustahil. Seluruh harta benda mereka telah terkubur bersama amblasnya tanah di kaki bukit Loa Janan.
“Kami sangat berharap disediakan rumah yang layak. Untuk membangun kembali sendiri, kami sudah tidak punya modal. Semuanya habis di sana,” ujar Rahman mewakili warga lainnya.
Kini, warga KM 28 Desa Batuah hanya bisa menatap lahan yang mereka dambakan sebagai tempat tinggal baru. Di tengah ketidakpastian awal tahun 2026 ini, mereka berharap pemerintah tidak berhenti pada pendataan semata, melainkan segera menghadirkan solusi permanen bagi keselamatan warga maupun pengguna jalan.









