Milad HMI ke-78: Peran Kohati dalam Menyikapi Tantangan Ekonomi dan Ketahanan Perempuan

Ellisa Wulan Oktavia (Wabendum Kohati PB HMI)
Ellisa Wulan Oktavia (Wabendum Kohati PB HMI)

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) merayakan milad ke-78 sebagai momen refleksi atas peran dan kontribusinya dalam menjawab tantangan zaman. Dalam peringatan ini, Korps HMI-Wati (Kohati) menyoroti realitas sosial yang semakin kompleks, terutama dampak krisis ekonomi terhadap perempuan dan keluarga.

Fenomena kelangkaan gas elpiji yang terjadi di berbagai daerah belakangan ini menjadi sorotan utama. Masalah ini tidak hanya terkait dengan distribusi, tetapi juga mencerminkan persoalan sistemik dalam pengelolaan sumber daya. Masyarakat kecil, khususnya perempuan yang mengelola rumah tangga, menjadi kelompok yang paling terdampak akibat naiknya harga kebutuhan pokok dan peningkatan biaya hidup.

Selain itu, isu ekonomi lainnya seperti inflasi, sulitnya lapangan pekerjaan, dan kesenjangan akses terhadap sumber daya ekonomi semakin memperburuk kondisi perempuan di Indonesia. Ekonom peraih Nobel, Amartya Sen, menegaskan bahwa ketimpangan ekonomi dapat menghambat pembangunan sosial, terutama bagi kelompok rentan seperti perempuan. Hal ini juga diperkuat oleh teori modal dari sosiolog Pierre Bourdieu, yang menyebut bahwa perempuan kerap mengalami keterbatasan dalam mengakses modal ekonomi dan sosial, sehingga semakin sulit bertahan di tengah krisis.

Dalam menghadapi situasi ini, Kohati menegaskan komitmennya untuk berperan aktif dalam memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi perempuan melalui tiga langkah strategis:

  1. Edukasi Kesadaran Ekonomi
    Kohati akan hadir sebagai ruang edukasi bagi perempuan untuk memahami isu ekonomi yang berdampak pada kehidupan mereka. Kesadaran kritis terhadap kebijakan ekonomi menjadi penting agar perempuan tidak hanya menjadi korban keadaan, tetapi juga mampu mendorong kebijakan yang lebih berpihak pada masyarakat kecil.
  2. Pemberdayaan Ekonomi Perempuan
    Kohati akan menginisiasi berbagai program pelatihan dan advokasi untuk meningkatkan literasi ekonomi perempuan. Mengacu pada pandangan Naila Kabeer, seorang ahli gender dan pembangunan, pemberdayaan ekonomi bukan hanya soal meningkatkan pendapatan, tetapi juga memberikan perempuan kontrol terhadap sumber daya dan keputusan ekonomi. Program wirausaha berbasis komunitas dan advokasi kebijakan akan menjadi fokus utama dalam upaya ini.
  3. Advokasi Kebijakan Publik
    Kohati akan semakin aktif dalam mengawal isu-isu kebijakan publik yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat, seperti kelangkaan gas, kenaikan harga kebutuhan pokok, dan ketimpangan ekonomi. Sebagai bagian dari HMI yang memiliki tradisi intelektual dan gerakan sosial, Kohati berkomitmen untuk menjadi motor penggerak dalam gerakan sosial yang berpihak pada perempuan dan kelompok rentan lainnya.

Momentum Milad HMI ke-78 ini dijadikan kesempatan bagi Kohati untuk menegaskan perannya sebagai garda terdepan dalam membangun ketahanan perempuan. Tidak hanya sebagai wadah pengkaderan perempuan Muslim, Kohati juga menjadi ruang perjuangan dalam membangun kesadaran kritis dan menciptakan gerakan yang berdampak nyata bagi masyarakat.

Dengan semangat perjuangan yang telah diwariskan, HMI dan Kohati menegaskan bahwa eksistensinya harus tetap relevan dalam memberikan solusi bagi persoalan bangsa. Perjuangan ini bukan sekadar membangun kapasitas individu, tetapi juga mendorong perubahan sosial yang lebih adil dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *