Mudaetam.com, KUTAI KARTANEGARA — Jejak Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menjadi salah satu modal Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) untuk mengembangkan wisata sejarah di Tenggarong.
Sejumlah situs yang tersebar di pusat kota, mulai dari kompleks makam raja-raja, Kedaton, museum hingga masjid bersejarah, dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi rangkaian destinasi wisata yang saling terhubung.
Plt Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Awang Agus Dharmawan, mengatakan wisata sejarah telah menjadi salah satu arah dalam pengembangan kepariwisataan daerah.
Hal tersebut disampaikannya saat kegiatan ziarah ke makam Aji Imbut, pendiri Kota Tenggarong, dan kompleks makam raja-raja Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dalam rangka Hari Jadi Kota Tenggarong ke-244, Senin (28/9/2026).
“Dalam wisata sejarah itu termasuk museum, adat istiadat Kutai, kompleks makam ini, Kedaton, Balai Agung, dan masjid yang ada,” kata Awang.
Menurutnya, keberadaan berbagai situs tersebut menjadi kekuatan tersendiri bagi Tenggarong. Wisatawan tidak hanya dapat menikmati tempat, tetapi juga memperoleh gambaran mengenai perjalanan sejarah dan kebudayaan Kutai.
Karena itu, pengembangan wisata sejarah dinilai perlu dilakukan secara terintegrasi dengan tetap menjaga nilai sejarah dan budaya yang melekat pada setiap situs.
Momentum Hari Jadi Kota Tenggarong juga menjadi pengingat pentingnya menjaga peninggalan sejarah yang telah diwariskan para pendahulu.
Awang mengatakan ziarah ke makam Aji Imbut dan para raja merupakan agenda rutin setiap 28 September. Kegiatan tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang berperan dalam membangun dan menjaga Kota Tenggarong.
“Ini bentuk penghormatan kita kepada para leluhur yang mulai mendirikan kota ini, membangun, menjaga, dan merawat kota ini hingga menjadi Kota Tenggarong seperti sekarang,” ujarnya.
Menurutnya, warisan tersebut tidak cukup hanya dikenang. Generasi saat ini memiliki tanggung jawab untuk merawat dan melestarikannya agar tetap dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
“Kita tinggal menikmati dan nantinya bagaimana kita juga ikut menjaga, merawat, serta melestarikan kota ini untuk anak cucu kita semua,” katanya.
Dari sisi pariwisata, keberadaan situs sejarah tersebut juga dapat menjadi alternatif bagi wisatawan yang datang ke Tenggarong. Terlebih, Kukar memiliki agenda budaya berskala besar seperti Erau Adat Kutai yang dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan destinasi sejarah di sekitarnya.
Erau Adat Kutai 2026 yang masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN) juga menjadi momentum untuk memperluas promosi budaya dan sejarah Kutai.
Dispar Kukar menargetkan rangkaian Erau tahun ini dapat menarik sekitar 40 ribu kunjungan. Arus wisatawan tersebut dinilai dapat diarahkan untuk mengenal lebih jauh situs sejarah dan budaya yang berada di Tenggarong.
Dengan pengembangan yang terarah, Dispar Kukar berharap warisan sejarah tidak hanya berfungsi sebagai peninggalan masa lalu.
Situs-situs tersebut dapat dikemas sebagai ruang edukasi sekaligus destinasi wisata yang memberikan pengalaman bagi pengunjung dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. (adv/disparkukar/m/h)









