Kemarau Panjang Ubah Wajah Wisata Danau Kukar, Dispar Dorong Destinasi Beradaptasi

Mudaetam.com, Kutai Kartanegara – Kemarau panjang yang melanda Kutai Kartanegara (Kukar) sejak Juli 2026 mulai mengubah wajah sejumlah destinasi wisata berbasis perairan. Salah satunya Danau Tanjung Sarai di Desa Kedang Murung, Kecamatan Kota Bangun, yang kini mengalami penyusutan volume air cukup signifikan.

Perubahan kondisi alam tersebut turut memengaruhi aktivitas wisata di kawasan danau. Kegiatan susur danau maupun penggunaan perahu menjadi lebih terbatas karena debit air tidak lagi seperti kondisi normal.

Kepala Bidang Pengembangan Destinasi dan Usaha Pariwisata Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar, Sadli, mengatakan kondisi tersebut merupakan dampak langsung dari kemarau yang berlangsung cukup panjang.

“Penurunan air tentu berpengaruh terhadap aktivitas wisata, khususnya wisata susur danau, penggunaan perahu, serta kunjungan wisatawan yang ingin menikmati keindahan danau secara optimal,” kata Sadli, Kamis (10/9/2026).

Meski demikian, menurutnya, penyusutan air tidak serta-merta membuat destinasi wisata harus kehilangan daya tarik. Perubahan lanskap yang muncul selama musim kemarau justru dapat dikembangkan menjadi pengalaman wisata alternatif.

Hamparan tepian danau yang sebelumnya tertutup air, misalnya, dapat membentuk bentang menyerupai kawasan pantai. Kondisi tersebut dapat menjadi latar untuk menikmati panorama matahari terbenam maupun lokasi swafoto, selama aktivitas dilakukan pada area yang aman.

“Promosi sebaiknya tidak hanya menampilkan kondisi danau saat normal, tetapi juga menawarkan pengalaman wisata alternatif yang aman ketika debit air sedang surut,” ujarnya.

Dispar Kukar pun mendorong pengelola destinasi dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk lebih adaptif dalam menghadapi perubahan kondisi alam. Pemantauan kawasan secara berkala dinilai penting untuk memastikan aktivitas wisata tetap aman bagi pengunjung.

Selain itu, informasi mengenai kondisi destinasi juga perlu disampaikan secara terbuka melalui media sosial. Dengan begitu, calon wisatawan dapat mengetahui kondisi terkini sebelum memutuskan untuk berkunjung.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya pengelolaan destinasi wisata yang menyesuaikan dengan karakter alam. Sebab, destinasi berbasis danau sangat bergantung pada kondisi cuaca dan perubahan debit air sepanjang tahun.

Sadli menegaskan bahwa pengembangan alternatif wisata selama musim kemarau tetap harus mengutamakan aspek keselamatan pengunjung serta menjaga kelestarian lingkungan sekitar.

“Kami harap, wisata danau yang ada di Kutai Kartanegara dapat dikelola secara adaptif dan berkelanjutan, khususnya dalam menghadapi musim-musim seperti kemarau saat ini,” tandasnya. (Adv/Disparkukar/M/H)

Pos terkait