Awal 2026 Memalukan POLRI: Dari Siswa Tewas hingga Kasat Narkoba Jadi Bandar

BALIKPAPAN, Mudaetam.com — Sekretaris Jenderal Forum Muda Inspiratif Balikpapan (FMIB) Agung Syahrir, melontarkan kecaman keras terhadap kondisi POLRI yang disebutnya “semakin kacau balau” di awal tahun 2026.

Menurutnya, kasus demi kasus yang menyeret anggota kepolisian bukan lagi persoalan oknum, tapi tanda bahwa institusi berada pada titik paling rapuh.

Agung menyoroti insiden paling memalukan tahun ini: tewasnya siswa 14 tahun asal Maluku Tenggara pada 19 Februari 2026, diduga akibat penganiayaan brutal oknum Brimob.

“Seorang anak tewas di tangan aparat. Kalau itu bukan alarm bahaya, lalu apa?” ujarnya saat diwawancarai, Sabtu (21/2).

Tak sampai disitu, publik kembali dibuat heran oleh kabar mantan Kasat Narkoba Polres Bima yang justru menjadi bandar narkoba.

“Ini sudah bukan ironi. Ini kegagalan struktural,” tegas Agung.

Agung menyebut awal tahun 2026 malah menjadi awal tahun paling gelap bagi wajah kepolisian, dengan sederet kasus yang menggerus habis kepercayaan publik.

Beberapa kasus diantaranya:

• 9 Februari 2026, Bima — Mantan Kasat Narkoba ditindak setelah terlibat jaringan narkotika.

* 19 Februari 2026, Tual — Siswa MTs berusia 14 tahun tewas diduga dianiaya oknum Brimob.

• Awal Februari 2026, Jakarta Selatan — Dugaan rekayasa BAP dalam kasus penganiayaan yang diarahkan menjadi perkara narkotika.

• Kasus kekerasan aparat dalam penanganan warga dan demonstran.

• Laporan pungutan liar di jajaran polsek-polres.

• Dugaan keterlibatan oknum dalam sindikat judi online dan kejahatan terorganisir.

Menurut Agung, pola pelanggaran tidak hanya berulang, tetapi juga meningkat tingkatannya.

“Ini bukan lagi rambu kuning, ini sirine merah menyala,” katanya.

Pria yang aktif diberbagai organisasi tersebut mengatakan bahwa POLRI sedang sakit dan membutuhkan operasi besar-besaran.

“Jika institusi yang diberi mandat menjaga hukum malah berkali-kali melanggarnya, negara sedang dalam ancaman serius,” tegasnya.

Ia menutup pernyataannya dengan nada tajam, “Selama pembenahan hanya berhenti di level oknum, kekacauan ini akan terus berulang. Publik sudah lelah, dan POLRI seharusnya malu,” tutup Agung. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *