BALIKPAPAN, Mudaetam.com — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-129 Kota Balikpapan menjadi momen penting untuk meninjau kembali berbagai persoalan sosial yang masih membayangi kota minyak ini. Isu kekerasan terhadap perempuan dan anak menjadi salah satu perhatian utama yang disoroti Korps HMI Wati (Kohati) HMI Cabang Balikpapan.
Formature Ketua Kohati HMI Cabang Balikpapan periode 2025/2026, Nurul Hidayah, menegaskan bahwa perayaan hari jadi kota seharusnya tidak hanya diisi dengan kegiatan seremonial, tetapi juga dijadikan ruang refleksi dan evaluasi atas rasa aman warga, khususnya kelompok rentan.
Menurut Nurul, kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan persoalan serius yang berdampak langsung pada kualitas hidup serta masa depan generasi. Ia mengingatkan bahwa isu tersebut tidak boleh luput dari perhatian di tengah geliat pembangunan kota.
Data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Kota Balikpapan menunjukkan adanya peningkatan kasus kekerasan terhadap perempuan. Pada tahun 2024 tercatat 36 korban, sementara pada 2025 jumlah tersebut meningkat menjadi 50 korban. Kondisi ini dinilai sebagai alarm bagi seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat langkah pencegahan dan penanganan.
Meski demikian, Nurul mengapresiasi capaian Balikpapan yang telah meraih predikat Kota Layak Anak. Namun ia menekankan, predikat tersebut harus diiringi dengan kebijakan dan tindakan nyata agar benar-benar dirasakan oleh anak-anak di lapangan.
“Predikat itu tidak cukup hanya menjadi simbol. Yang terpenting adalah bagaimana anak-anak merasa aman dan terlindungi dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
Ia juga mendorong kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, aparat penegak hukum, institusi pendidikan, hingga masyarakat, untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman dan ramah bagi perempuan dan anak. Penguatan layanan pendampingan korban serta edukasi publik dinilai menjadi langkah krusial.
Melalui momentum HUT ke-129 Kota Balikpapan, Kohati HMI Cabang Balikpapan berharap arah pembangunan kota tidak hanya menitikberatkan pada infrastruktur, tetapi juga pada perlindungan sosial dan pemenuhan rasa aman bagi seluruh warganya, khususnya perempuan dan anak.









