Mudaetam.com, MEDAN — Raja Sopang Hasibuan, peserta LK III BADKO HMI Sumatera Utara, menilai bahwa dinamika geopolitik global saat ini tengah memasuki fase transisi yang kompleks, ditandai dengan meningkatnya ketidakpastian dan pergeseran kekuatan dunia.
Menurutnya, tatanan internasional tidak lagi didominasi satu kekuatan utama seperti pasca-Perang Dingin. Dunia kini bergerak menuju sistem multipolar, dengan munculnya kekuatan baru seperti China serta peran Russia yang kembali aktif di panggung global, menantang dominasi United States.
“Pergeseran ini menciptakan ketegangan baru sekaligus membuka peluang bagi negara berkembang untuk memainkan peran lebih strategis,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa rivalitas antara Amerika Serikat dan Tiongkok menjadi poros utama geopolitik abad ini. Persaingan tersebut tidak hanya terjadi di bidang ekonomi, tetapi juga merambah sektor teknologi seperti kecerdasan buatan dan semikonduktor, serta pengaruh kawasan, khususnya di Indo-Pasifik.
Di sisi lain, ia melihat adanya fragmentasi global yang semakin nyata, ditandai dengan konflik di berbagai kawasan seperti Middle East dan perang di Ukraine. Konflik-konflik ini, menurutnya, sering kali merupakan bentuk “perang proksi” antar kekuatan besar, yang turut melemahkan peran lembaga internasional seperti United Nations dalam menjaga stabilitas global.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa faktor geografis tetap menjadi kunci dalam percaturan global. Kawasan seperti South China Sea dan Strait of Malacca menjadi titik strategis jalur perdagangan dunia yang rawan konflik.
Dalam konteks ini, posisi Indonesia dinilai sangat penting sekaligus rentan terhadap tekanan geopolitik.
Selain ancaman tradisional, ia juga menyoroti tantangan non-tradisional seperti radikalisme lintas negara serta dampak perubahan iklim yang memicu perebutan sumber daya alam.
Sebagai penutup, Raja Sopang menegaskan bahwa Indonesia harus memperkuat peran diplomasi aktif dan kerja sama multilateral. Ia menilai prinsip politik luar negeri bebas-aktif tetap relevan untuk menjaga stabilitas nasional sekaligus memanfaatkan peluang ekonomi di tengah rivalitas global.
“Indonesia tidak boleh pasif. Dengan posisi strategis yang dimiliki, kita harus mampu menjadi pemain, bukan sekadar penonton dalam dinamika geopolitik dunia,” pungkasnya.









