Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi menyampaikan duka mendalam atas meninggalnya seorang pelajar kelas IV sekolah dasar di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa ini, menurutnya, menjadi alarm serius bagi semua pihak untuk memperkuat sistem perlindungan anak secara nyata dan berkelanjutan.
Arifah menegaskan bahwa program Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) tidak boleh berhenti pada tataran kebijakan dan dokumen semata. Implementasinya harus benar-benar dirasakan hingga ke lingkungan terdekat anak, mulai dari keluarga, sekolah, hingga komunitas.
Ia menekankan kehadiran negara menjadi kunci dalam memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan, pendidikan yang layak, serta ruang aman untuk tumbuh dan berkembang. Pemerintah pusat dan daerah diminta lebih serius memastikan kebijakan perlindungan anak berjalan efektif dan berdampak langsung bagi kehidupan anak-anak.
Lebih lanjut, Arifah mengingatkan bahwa perlindungan anak bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang aman, suportif, dan peka terhadap kondisi psikologis anak.
Dalam keterangannya, Arifah juga menyoroti kerentanan anak laki-laki yang kerap luput dari perhatian. Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA), sepanjang 2025 tercatat lebih dari 6.000 anak laki-laki menjadi korban kekerasan fisik, psikis, maupun seksual.
Ia menilai konstruksi sosial masih menjadi penghalang bagi anak laki-laki untuk mengekspresikan emosi dan meminta pertolongan. Stigma dan rasa takut membuat banyak dari mereka memilih diam, meski berada dalam situasi sulit.
“Kita harus memastikan sistem perlindungan anak bersifat inklusif dan responsif, tanpa membedakan jenis kelamin. Setiap anak berhak merasa aman untuk berbicara dan mendapatkan bantuan. Tidak boleh ada anak yang merasa sendirian saat menghadapi masalah,” tegas Arifah.
Peristiwa ini diharapkan menjadi momentum bersama untuk memperkuat kepedulian, deteksi dini, dan pendampingan terhadap anak, agar tragedi serupa tidak kembali terulang.
Sumber: detikNews









