
Oleh: Moh. Abdul Majid | Pengurus BPC Hipmi Samarinda
Setiap tahun, ribuan nama dipanggil dari podium wisuda, seraya disambut tepuk tangan haru dan lembar ijazah kebanggaan. Namun, yang menanti di luar gedung bukanlah kepastian, melainkan ketidakpastian. Sebab ijazah hari ini tidak lagi menjadi jaminan untuk esok yang lebih baik. Yang menyambut banyak lulusan bukan pekerjaan, melainkan antrean panjang di depan pintu-pintu pengangguran.
Ironi itu kian dalam ketika kita tahu bahwa sebagian besar dari pengangguran itu justru datang dari kalangan yang disebut “terdidik” mereka yang telah melewati bangku sekolah menengah dan perguruan tinggi. Padahal dalam banyak narasi nasional, kaum terdidik selalu ditempatkan sebagai harapan perubahan, pencerah zaman, dan tulang punggung kemajuan.
Indonesia saat ini tidak kekurangan lulusan, tapi kekurangan daya guna. Dan dalam krisis multidimensi yang melanda dari ekonomi, pendidikan, hingga keumatan sebagian kaum terpelajar justru menjadi penonton pasif, bahkan tak jarang menjadi beban baru. Maka pertanyaannya bukan sekadar apakah kita cukup belajar, tetapi apakah kita telah menjadi bagian dari solusi atau justru perpanjangan dari permasalahan struktural?
Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2025 mencatat, jumlah pengangguran terbuka mencapai 7,28 juta orang atau 4,76 persen dari total angkatan kerja. Dari angka tersebut, 13,89 persen adalah lulusan pendidikan tinggi, sementara lulusan SMA dan SMK menyumbang lebih dari separuh dari total pengangguran nasional.
Data itu menunjukkan bahwa pendidikan belum tentu menjamin kesejahteraan. Gelar akademik belum tentu menjadi pembuka jalan, apalagi penyelesai masalah. Achmad Nur Hidayat, pakar kebijakan publik, menyebut bahwa akar masalahnya terletak pada mismatch ketidaksesuaian antara kompetensi yang diajarkan di kampus dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah. Kampus sibuk menara gading, sementara realitas hidup ada di jalan-jalan sempit rakyat.
Indonesia sedang berada di tengah apa yang disebut bonus demografi momen langka ketika penduduk usia produktif mendominasi populasi. Namun jika mayoritas usia produktif itu tidak mampu bekerja secara produktif, maka berkah demografi itu bisa berubah menjadi kutukan sosial, frustrasi generasi muda, eksodus tenaga kerja, ledakan angka kriminalitas, hingga kemacetan sosial dalam berbagai bentuknya.
Dan di titik ini, mahasiswa baik dari kampus negeri, swasta, maupun kader organisasi pergerakan tidak boleh sekadar menjadi pencari kerja. Mereka harus berevolusi menjadi pencipta kerja, pemecah masalah, dan pelayan bagi peradaban umat.
Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang diwariskan sebagai pedoman perjuangan intelektual, sejatinya bukan hanya narasi kaderisasi, melainkan cita-cita besar tentang manusia yang utuh. NDP menggambarkan mahasiswa sebagai, Pemikir yang menjawab zaman dengan ilmu, Pencipta gagasan dan solusi yang aplikatif, Pelayan masyarakat, bukan pengumpul gelar, Muslim yang menyatu dengan realitas sosial, Pribadi yang sadar akan tanggung jawab sejarahnya.
Kelima dimensi itu adalah penanda dari mahasiswa yang merdeka dalam berpikir, berani dalam bertindak, dan rendah hati dalam melayani. Sudah saatnya mahasiswa tidak hanya mendorong reformasi kurikulum agar lebih kontekstual, tetapi juga membangun unit usaha mandiri, mengembangkan koperasi kampus, menciptakan ekosistem digital berbasis riset, dan menjadi aktor dalam advokasi kebijakan ekonomi yang lebih berkeadilan.
Jika sarjana terus menambah antrean pengangguran, maka kita gagal memahami esensi pendidikan. Jika kampus hanya mencetak ijazah tanpa arah hidup, maka ia tak lebih dari pabrik harapan semu. Dan jika kaum terdidik tidak lagi hadir di tengah keresahan umat, maka siapa lagi yang bisa diandalkan?
Pendidikan bukan sekadar akumulasi informasi, melainkan pembentukan peradaban. Maka kaum terdidik mahasiswa, alumni, dan para pendidik harus kembali menemukan ruhnya berpikir untuk rakyat, bergerak bersama umat, dan menjadi terang dalam gelapnya persoalan bangsa.
Bukan ijazah yang kita butuhkan hari ini, tapi kesanggupan untuk menjawab zaman.







