Ekowisata Buana Jaya Kukar Matangkan Pengelolaan, Tiket Masuk Menunggu Kesiapan Fasilitas

Mudaetam.com, KUTAI KARTANEGARA – Pengembangan Buana Jaya Agro Ekowisata di Desa Buana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), tidak hanya berfokus pada potensi alam, tetapi juga pada kesiapan pengelolaan destinasi. Hingga kini, pengelola belum memberlakukan tiket masuk karena masih memprioritaskan pembenahan kawasan dan mematangkan dasar aturan penerapan tarif.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya membangun destinasi wisata yang lebih tertata dan mampu memberikan kenyamanan bagi pengunjung. Pengelola menilai, penerapan tiket masuk perlu diiringi kesiapan fasilitas serta sistem pengelolaan yang jelas agar sejalan dengan kualitas layanan yang diberikan kepada wisatawan.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Buana Jaya Agro Ekowisata, Eko Widodo, mengatakan pihaknya belum ingin menarik biaya kunjungan selama fasilitas yang tersedia masih terbatas. Selain pembenahan kawasan, pembahasan mengenai dasar regulasi juga perlu dilakukan bersama pihak terkait.

“Untuk tiket masuk memang belum ada. Kami masih perlu membicarakan dasar aturannya, sementara fasilitas juga masih terbatas. Kami merasa belum tepat kalau menarik biaya ketika fasilitasnya belum memadai,” ujar Eko, Jumat (11/9/2026).

Menurutnya, kebijakan tiket tidak semata-mata berkaitan dengan pemasukan pengelola, tetapi juga menyangkut tanggung jawab dalam memberikan pelayanan kepada wisatawan. Karena itu, kesiapan sarana, kenyamanan pengunjung, dan kepastian aturan menjadi pertimbangan sebelum kebijakan tersebut diterapkan.

Saat ini, Buana Jaya Agro Ekowisata belum dibuka secara rutin. Pengelola sempat menerima kunjungan pada awal 2026, tetapi aktivitas wisata dihentikan sementara untuk memberi ruang bagi pembenahan, terutama di kawasan air terjun.

Pokdarwis menargetkan destinasi tersebut dapat kembali dibuka pada 2027. Persiapan dilakukan secara bertahap agar kawasan lebih siap menerima wisatawan sekaligus mendukung pengembangan potensi wisata yang dimiliki Desa Buana Jaya.

Buana Jaya memiliki beragam potensi yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik wisata, mulai dari air terjun, kawasan hutan, hingga kebun milik masyarakat. Kekayaan tersebut membuka peluang bagi pengelola untuk menghadirkan pengalaman wisata yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kegiatan edukatif.

Salah satu konsep yang pernah diperkenalkan adalah paket wisata edukasi. Melalui kegiatan ini, pengunjung dapat melakukan trekking, mengunjungi kebun alpukat milik warga, serta mengenal berbagai aktivitas produktif masyarakat setempat.

Pengalaman wisata juga dapat diperkaya melalui pengenalan budidaya jamur tiram, pembuatan jamu herbal, dan budidaya lebah kelulut. Ragam kegiatan tersebut berpotensi mempertemukan sektor pariwisata dengan usaha masyarakat, sehingga kehadiran wisatawan dapat membuka peluang ekonomi lokal.

Meski demikian, kegiatan wisata edukasi tersebut belum berjalan rutin seiring penghentian sementara kunjungan ke kawasan ekowisata. Pengelola masih perlu mempersiapkan kembali kawasan dan mengatur pola pelayanan sebelum aktivitas wisata dikembangkan lebih lanjut.

Eko menjelaskan, wisatawan yang membutuhkan pendamping selama berkunjung dapat menghubungi pengelola. Sebelumnya, ada pula pengunjung yang datang secara mandiri tanpa menggunakan jasa pemandu.

“Kalau pengunjung membutuhkan pendamping, mereka bisa menghubungi pengelola. Ada juga yang datang sendiri. Untuk ke depannya, kami ingin pengelolaan kunjungan bisa lebih tertata sesuai dengan kesiapan kawasan,” katanya.

Ke depan, pengembangan Buana Jaya Agro Ekowisata diarahkan untuk memadukan ekowisata dan agrowisata. Pendekatan ini diharapkan dapat memperluas pilihan aktivitas wisata sekaligus memperkenalkan potensi alam dan usaha masyarakat kepada pengunjung.

Di sisi lain, pembenahan fasilitas dan koordinasi terkait dasar penerapan tarif menjadi bagian penting dalam menyiapkan pengelolaan destinasi yang berkelanjutan. Dengan perencanaan yang matang, pengelola berharap aktivitas wisata nantinya dapat berlangsung lebih teratur dan memberikan pengalaman yang baik bagi pengunjung.

Eko berharap pembenahan kawasan dapat berjalan seiring dengan koordinasi bersama pihak terkait, sehingga rencana pembukaan kembali pada 2027 dapat dipersiapkan dengan lebih baik.

“Harapannya, kawasan ini bisa dibenahi terlebih dahulu dan pengelolaannya semakin siap. Untuk persoalan tiket, kami perlu membicarakannya lebih lanjut agar kebijakan yang diterapkan nantinya memiliki dasar yang jelas dan sesuai dengan kondisi di lapangan,” tuturnya. (adv/disparkukar/m/h)

Pos terkait