Dari Jamur Krispi hingga Madu Kelulut, UMKM Buana Jaya Disiapkan Perkuat Wisata Edukasi

Mudaetam.com, KUTAI KARTANEGARA – Potensi wisata Desa Buana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), tak hanya menawarkan keindahan alam. Produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang dihasilkan masyarakat juga berpeluang menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan sekaligus membuka ruang pemasaran bagi usaha lokal.

Mulai dari jamur krispi, jamu herbal, keripik keladi, hingga madu kelulut, beragam produk tersebut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bagian dari pengalaman berwisata. Pengunjung nantinya tidak hanya menikmati suasana alam, tetapi juga mengenal proses produksi dan hasil kreativitas masyarakat setempat.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Buana Jaya Agro Ekowisata, Eko Widodo, mengatakan sejumlah produk lokal telah dikembangkan masyarakat dan berpotensi diperkenalkan lebih luas melalui kegiatan pariwisata.

“Produk masyarakat yang bisa diperkenalkan antara lain jamur krispi dan jamu herbal. Kami juga pernah mengembangkan keripik keladi, tetapi produksinya terkendala karena bahan bakunya tidak selalu tersedia,” ujar Eko, Jumat (11/9/2026).

Menurutnya, keterlibatan pelaku UMKM dapat memperkuat konsep wisata berbasis masyarakat. Produk lokal tidak sekadar menjadi buah tangan, tetapi juga dapat diintegrasikan dengan kegiatan edukasi yang memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung.

Salah satu peluang yang dapat dikembangkan ialah budidaya jamur tiram. Aktivitas ini berpotensi menjadi sarana pembelajaran bagi wisatawan untuk mengenal tahapan budidaya hingga proses pengolahan jamur menjadi produk siap konsumsi.

Konsep tersebut membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperkenalkan usaha yang dijalankan sekaligus memberikan nilai tambah pada aktivitas wisata di Desa Buana Jaya.

Meski memiliki beragam potensi, pengembangan UMKM masih membutuhkan dukungan dari sisi kesinambungan produksi. Ketersediaan bahan baku menjadi salah satu faktor penting agar produk lokal dapat dipasarkan secara konsisten.

Kondisi itu terlihat pada produksi keripik keladi yang belum dapat berjalan optimal. Keterbatasan jumlah petani yang membudidayakan keladi membuat pasokan bahan baku belum selalu tersedia.

“Kendalanya ada pada bahan baku. Ketika keladi tidak tersedia, produksi keripik juga sulit dilanjutkan. Karena itu, ketersediaan bahan baku menjadi hal penting jika produk tersebut ingin dikembangkan secara berkelanjutan,” jelasnya.

Selain mengembangkan produk olahan, Pokdarwis melihat peluang untuk mengintegrasikan jamu herbal dengan kegiatan Pusat Pelatihan Pertanian dan Perdesaan Swadaya (P4S). Keberadaan fasilitas tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran bagi pengunjung yang ingin mengenal proses pembuatan jamu.

Potensi lain yang turut dilirik ialah pengolahan hasil perikanan air tawar menjadi produk bernilai tambah. Upaya ini diharapkan dapat memperluas pilihan produk lokal sekaligus mendorong pemanfaatan potensi sumber daya yang dimiliki masyarakat.

Sementara itu, pengembangan kopi masuk dalam rencana jangka panjang. Rencana budidaya di kawasan TSM menghadapi kendala karena wilayah tersebut direncanakan untuk kegiatan pertambangan. Sebagai alternatif, pengembangan kopi direncanakan diarahkan ke kawasan Blackstone Geopark.

Rencana tersebut masih menjadi bagian dari penjajakan potensi usaha yang dapat mendukung pengembangan ekonomi masyarakat dan memperkaya produk lokal Desa Buana Jaya.

Pengembangan produk UMKM juga diharapkan berjalan beriringan dengan pembenahan kawasan Buana Jaya Agro Ekowisata. Kolaborasi antara Pokdarwis dan pelaku usaha menjadi salah satu upaya untuk menghubungkan potensi wisata dengan aktivitas ekonomi warga.

Saat ini, kawasan Buana Jaya Agro Ekowisata belum dibuka secara rutin karena masih menjalani pembenahan. Pokdarwis menargetkan destinasi tersebut dapat kembali menerima pengunjung pada 2027.

Momentum pembukaan kembali nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan pengalaman wisata yang lebih beragam, mulai dari menikmati potensi alam, mengikuti kegiatan edukasi, hingga mengenal produk unggulan masyarakat.

Dengan mengintegrasikan potensi alam, edukasi, dan UMKM, Desa Buana Jaya memiliki peluang untuk membangun daya tarik wisata yang tidak hanya berorientasi pada kunjungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga.

Pengembangan tersebut sekaligus menjadi langkah untuk memperluas pengenalan produk lokal dan mendorong tumbuhnya peluang usaha masyarakat melalui sektor pariwisata. (adv/disparkukar/m/h)

Pos terkait