Mudaetam.com, KUTAI KARTANEGARA – Desa Buana Jaya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terus mengembangkan potensi pariwisata dengan menggabungkan keindahan alam, aktivitas pertanian, wisata edukasi, seni budaya, hingga produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Konsep wisata terpadu ini menjadi upaya Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Buana Jaya Agro Ekowisata untuk menghadirkan pengalaman berwisata yang lebih beragam. Tidak sekadar menikmati panorama alam, pengunjung nantinya juga dapat mengenal kehidupan masyarakat desa, belajar mengenai pertanian, serta melihat berbagai produk lokal yang memiliki nilai ekonomi.
Ketua Pokdarwis Buana Jaya Agro Ekowisata, Eko Widodo, mengatakan Desa Buana Jaya memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata yang saling melengkapi.
“Potensi di Buana Jaya cukup beragam. Kami ingin wisata alam, pertanian, edukasi, dan usaha masyarakat bisa saling mendukung sehingga pengunjung punya lebih banyak hal yang dapat dikenal saat datang ke desa,” ujar Eko, Sabtu (12/9/2026).
Beragam aktivitas edukasi telah menjadi bagian dari potensi wisata desa tersebut. Di antaranya trekking menuju kawasan hutan dan air terjun, kunjungan ke kebun alpukat, pengenalan budidaya jamur, hingga pembelajaran proses pembuatan jamu herbal.
Kegiatan tersebut memberikan alternatif wisata yang tidak hanya berorientasi pada rekreasi, tetapi juga pengalaman dan pengetahuan. Pengunjung dapat mengenal lingkungan alam sekaligus mempelajari aktivitas produktif masyarakat yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di desa.
Potensi pertanian juga membuka peluang untuk menghadirkan pengalaman agrowisata. Kebun dan kegiatan budidaya dapat dikembangkan sebagai ruang pembelajaran sekaligus daya tarik yang memperkaya pilihan kunjungan wisatawan.
Di sisi lain, keberadaan UMKM menjadi bagian penting dalam konsep pengembangan tersebut. Produk lokal berpeluang diperkenalkan kepada pengunjung sebagai bagian dari pengalaman wisata, sehingga aktivitas pariwisata dapat memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Pengembangan Buana Jaya Agro Ekowisata melibatkan sejumlah unsur masyarakat dengan peran yang saling mendukung. Kawasan ekowisata dikelola melalui Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) yang bernaung di bawah Lembaga Hutan Desa. Sementara itu, Pokdarwis menjalin kerja sama untuk mendukung pengembangan kegiatan wisata, termasuk dengan pemilik kebun dan pelaku usaha lokal.
Menurut Eko, kolaborasi menjadi salah satu faktor penting agar potensi yang dimiliki desa dapat dikembangkan secara bertahap. Keterlibatan masyarakat juga diharapkan membuka peluang ekonomi melalui kegiatan wisata maupun pemasaran produk lokal.
“Kerja sama masyarakat dan pihak terkait penting supaya potensi yang ada bisa dikembangkan bersama. Harapannya, kegiatan wisata juga dapat memberi manfaat bagi warga,” katanya.
Selain mengembangkan wisata berbasis alam dan pertanian, Buana Jaya juga memiliki pengalaman memadukan kegiatan seni budaya dengan pemberdayaan ekonomi masyarakat melalui Ngamen Milenial.
Kegiatan yang digelar pada 2023, 2024, dan 2025 tersebut menghadirkan pertunjukan seni sekaligus bazar UMKM. Melalui kegiatan ini, pelaku usaha lokal memperoleh ruang untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat, sedangkan kesenian menjadi bagian dari daya tarik kegiatan desa.
Namun, Ngamen Milenial belum terlaksana pada 2026 karena keterbatasan anggaran desa. Pelaksanaan kembali pada masa mendatang masih menyesuaikan kesiapan dan dukungan pendanaan yang tersedia.
Di tengah upaya mengembangkan konsep wisata terpadu, pengelola masih menghadapi tantangan dalam menyiapkan kawasan agar dapat beroperasi secara optimal. Saat ini, Buana Jaya Agro Ekowisata belum dibuka secara rutin karena masih menjalani pembenahan, terutama di area air terjun.
Pokdarwis menargetkan kawasan tersebut dapat kembali dibuka pada 2027. Pembenahan ini menjadi bagian dari persiapan untuk mendukung aktivitas wisata sekaligus mengoptimalkan potensi alam yang dimiliki desa.
Dari sisi sumber daya manusia, Pokdarwis yang dibentuk pada 2023 dengan 26 anggota awal kini diperkirakan memiliki sekitar 10 hingga 15 anggota yang masih aktif. Sebagian anggota lainnya telah memperoleh pekerjaan di luar wilayah.
“Awalnya anggota kami ada 26 orang. Sekarang diperkirakan tersisa sekitar 10 sampai 15 orang karena beberapa sudah mendapatkan pekerjaan di luar,” ungkap Eko.
Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan wisata. Kesiapan pengelola dan dukungan masyarakat dibutuhkan agar pengembangan kawasan dapat berjalan seiring dengan pembenahan fasilitas serta penyusunan kegiatan wisata.
Ke depan, Pokdarwis ingin menghubungkan potensi alam, pertanian, edukasi, seni budaya, dan UMKM dalam satu pengalaman wisata yang saling mendukung. Dengan konsep tersebut, Buana Jaya diharapkan tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga karena aktivitas dan kreativitas masyarakat yang menjadi bagian dari daya tarik desa.
Pengembangan ini sekaligus membuka peluang bagi pariwisata untuk berkontribusi terhadap ekonomi lokal melalui kunjungan wisatawan, keterlibatan masyarakat, dan promosi produk unggulan desa. (adv/disparkukar/m/h)









