Mudaetam.com, KUTAI KARTANEGARA – Mengeringnya Danau Uwis di Kecamatan Muara Uwis, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), berdampak pada aktivitas wisata dan jumlah kunjungan. Wisatawan kesulitan menikmati susur danau menggunakan perahu ketika permukaan air surut.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Puluhan Nusa, Medri, mengatakan kunjungan wisatawan saat ini cenderung sepi, terutama pada hari biasa. Kawasan danau biasanya lebih ramai ketika ada kegiatan atau acara tertentu.
“Sekarang kunjungan agak berkurang. Biasanya ramai kalau ada kegiatan atau acara tertentu. Kalau hari biasa, kunjungannya sangat sedikit. Tahun ini penurunannya cukup jauh,” ujar Medri, Selasa (15/9/2026).
Ia menjelaskan, pengelola belum memiliki data kunjungan yang lengkap untuk memastikan jumlah wisatawan setiap tahun. Buku tamu yang tersedia tidak selalu diisi oleh pengunjung sehingga angka kunjungan masih berdasarkan perkiraan.
Berdasarkan perkiraan Medri, jumlah wisatawan pada tahun sebelumnya berkisar 200–300 orang dalam setahun. Namun, kunjungan pada 2026 dinilai menurun cukup jauh dibandingkan periode tersebut.
Menurutnya, kondisi air danau menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya tarik wisata. Saat air masih tinggi, pengunjung dapat menyusuri danau menggunakan perahu. Aktivitas tersebut menjadi salah satu pengalaman utama yang ditawarkan kepada wisatawan.
“Kalau airnya masih tinggi, pengunjung bisa menikmati susur danau menggunakan perahu. Tetapi ketika air mulai surut dan danau mengering, aktivitas itu menjadi sulit dilakukan,” katanya.
Berkurangnya pilihan aktivitas tersebut mendorong perlunya pengembangan daya tarik lain di kawasan Danau Uwis. Medri menilai wisata tidak seharusnya hanya bergantung pada kegiatan susur danau, mengingat kondisi air dapat berubah mengikuti musim.
Salah satu potensi yang dapat dikembangkan ialah wisata edukasi melalui kunjungan ke kebun jagung dan peternakan kerbau milik masyarakat. Kegiatan tersebut berpeluang memberikan pengalaman berbeda bagi pengunjung, terutama untuk mengenal aktivitas pertanian dan peternakan setempat.
Namun, wisata edukasi itu masih bersifat musiman dan belum menjadi paket wisata yang berjalan rutin. Pengembangannya memerlukan koordinasi dengan pemilik lahan, peternak, serta pihak terkait agar kegiatan dapat disiapkan dengan baik.
“Harapannya, Danau Uwis tidak hanya mengandalkan susur danau. Potensi lain yang ada di sekitar kawasan juga bisa dikembangkan agar pengunjung tetap mempunyai pilihan kegiatan,” ungkap Medri.
Ia berharap kerja sama antara Pokdarwis, pemerintah desa, dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dapat diperkuat untuk membahas pengembangan potensi wisata yang tersedia.
“Kalau ada kerja sama yang baik antara Pokdarwis, pemerintah desa, dan BUMDes, potensi yang ada bisa dibicarakan bersama. Kami berharap ada pengembangan yang terarah sehingga Danau Uwis bisa kembali menarik minat wisatawan,” tuturnya.
Pengembangan wisata alternatif diharapkan dapat memperluas pilihan kegiatan bagi pengunjung sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap susur danau. (adv/disparkukar/m/h)









